.::MyBlogs::.

KTI 0707/121212/2009200920092009

HUBUNGAN PERSALINAN PRETERM DENGAN

KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM

DI RSUD PARIAMAN

TAHUN 2008

Karya Tulis Ilmiah

Diajukan sebagai salah satu syarat tugas akhir penyelesaian

Pendidikan Diploma III Kebidanan

RINA PUSPITA AMRI

NIM. 060201025

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN

STIKES PIALA SAKTI

PARIAMAN

2009


LEMBAR PERSETUJUAN

Proposal Karya Tulis Ilmiah berjudul “Hubungan Persalinan Preterm dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Pariaman Tahun 2009” ini telah diperiksa, disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Seminar proposal Karya Tulis Ilmiah PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN STIKES PIALA SAKTI PARIAMAN.

Pariaman, Juli 2009

Pembimbing I

(Srinelis, Amd.Keb, SKM)

Pembimbing II

(Ns. Silvia Oktamurni, S.Kep)

Mengetahui,

Ketua STIKES Piala Sakti Pariaman

(dr. Hj. Harmeilinda)

PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN

STIKES PIALA SAKTI

PARIAMAN

2009
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI

Proposal Karya Tulis Ilmiah berjudul “Hubungan Persalinan Preterm dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Pariaman Tahun 2009” ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Seminar Proposal Karya Tulis Ilmiah PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN STIKES PIALA SAKTI PARIAMAN.

Penguji I

(Nurhayati, S.SiT)

Penguji II

(Rice Haryati, SE, MSi)

Moderator

(Sri Nelis, Amd.Keb, S.KM)

PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN

STIKES PIALA SAKTI

PARIAMAN

2009


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Rina Puspita Amri

Tempat/tanggal lahir : Medan/ 03 Maret 1989

Jenis kelamin : Perempuan

Anak ke : 3 dari 4 bersaudara

Agama : Islam

Status perkawinan : Belum kawin

No Telp : 081267607170

Alamat : Padang Olo, Sungai limau

Nama orang tua : Ayah : Amrizal

Ibu : Yernita

Alamat : Padang Olo, Sungai Limau

Riwayat Pendidikan

1. SD N 45 Pagatian Sungai Limau : 1994 – 2000

2. SLTP N II Sungai Limau : 2000 – 2003

3. SMU N 1 Sungai Limau : 2003 – 2006

4. STIKes Piala Sakti Program Studi DIII Kebidanan Pariaman : 2006 – 2009


STIKES PIALA SAKTI PARIAMAN

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN

Karya Tulis Ilmiah, Oktober 2009

Rina Puspita Amri

Hubungan Persalinan Preterm dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Pariaman tahun 2008

vii, 28 halaman, 5 tabel, 5 lampiran

ABSTRAK

Salah satu unsur indikator keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan adalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Pada tahun 2006 Angka Kematian Bayi 35 per 1000 Kelahiran Hidup. Salah satu penyebab kematian neonatal adalah asfiksia neonatorum (49-60%). Dan berbagai kemungkinan penyebab terjadinya asfiksia neonatorum diantaranya adalah persalinan preterm. Di Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman 7,7% persalinan adalah persalinan preterm dan 67,9% dari jumlah persalinan preterm tersebut mengalami asfiksia dan masalah utamanya adalah masih tingginya kasus kematian yang disebabkan oleh asfiksia neonatorum. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman tahun 2008.

Desain penelitian ini bersifat survey analitik dengan rancangan casecontrol dan pendekatan retrospektif. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman dari tanggal 25 Mei sampai 28 Agustus 2009. Sampel yang digunakan sebanyak 53 sampel yang diambil secara total sampling. Data penelitian ini diambil dari data sekunder melalui catatan rekam medis tahun 2008. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat, melalui tabel distribusi frekuensi dan uji statistik yang dilakukan secara manual menggunakan rumus Chi-Square dengan X2 tabel = 3,841.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus persalinan preterm berjumlah 53 kasus dari 690 persalinan. Sebagian besar (67,9%) dari kasus tersebut mengalami asfiksia neonatorum. Setelah dilakukan uji chi-square didapatkan hubungan yang bermakna antara persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum dimana X2 hitung (25,9) > X2 tabel (3,841).

Setelah dilakukan penelitian diperoleh kesimpulan bahwa sebagian besar persalinan preterm mengakibatkan asfiksia neonatorum. Diharapkan pada petugas Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman untuk melakukan penyuluhan tentang faktor resiko dan upaya pencegahan terjadinya persalinan preterm.

Daftar bacaan : 12 (1995 – 2008).


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan petunjuk, rahmat dan karunia serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Hubungan Persalinan Preterm dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Pariaman Tahun 2008.

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma III Kesehatan Program Studi Kebidanan. Selama proses penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini izinkan penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. DR. Yunazar Manjang, selaku Ketua Stikes Piala Sakti Pariaman

2. Ibu Febriyeni, S.Si.T selaku Ketua Program Studi DIII Kebidanan Stikes Piala Sakti Pariaman

3. Ibu Sri Nelis, Amd.Keb, SKM selaku Pembimbing I dan Ibu Ns. Silvia Oktamurni, S.Kep selaku Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu dan pikiran dalam memberikan petunjuk, pengarahan, bimbingan maupun saran serta dorongan sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

4. Dosen dan Staf Akademik Stikes Piala Sakti Pariaman yang telah membantu dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

5. Direktur RSUD Pariaman yang telah mengizinkan penulis untuk mengambil data awal di RSUD Pariaman.

6. Teristimewa kepada kedua orang tua serta kakak (elok Ija dan Abang Supri) dan adekku (Rian Caem) yang tercinta yang telah memberikan do’a, dukungan dan semangat serta cinta dan kasih sayang sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah penelitian ini semaksimal mungkin.

7. Teman-temanku Angkatan I DIII Kebidanan Stikes Piala Sakti Pariaman (Incim, Bocet, Mimie, Mina dan Cilen) yang telah membantu dan memberikan semangat dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini.

8. Serta kepada QWERTY.net terutama Fer ciek dan Jho yang telah membantu dalam pengetikan Karya Tulis Ilmiah ini. ”Makacih ya, ketikannya bagus banget”

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak terdapat kekurangan, dengan demikian penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun serta penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, amin.

Pariaman, Oktober 2009

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PERSETUJUAN

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

ABSTRAK

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………. iii

DAFTAR TABEL ………………………………………………………………………….. v

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………………… vi

DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………….. vii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang …………………………………………………………… 1

1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………….. 3

1.3 Tujuan Penelitian …………………………………………………………. 4

1.3.1 Tujuan Umum …………………………………………………….. 4

1.3.2 Tujuan Khusus ……………………………………………………. 4

1.4 Manfaat Penelitian ……………………………………………………….. 4

1.5 Ruang Lingkup ……………………………………………………………. 5

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Tinjauan Kepustakaan ………………………………………………….. 6

2.1.1 Persalinan Preterm ………………………………………………. 6

2.1.2 Asfiksia Neonatorum …………………………………………… 9

2.2 Kerangka Konsep ………………………………………………………. 17

2.3 Hipotesa Penelitian ………………………………………………………. 17

2.4 Definisi Operasional …………………………………………………….. 18

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian …………………………………………………………. 19

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ………………………………………… 19

3.2.1 Tempat ……………………………………………………………… 19

3.2.2 Waktu ………………………………………………………………. 19

3.3 Populasi dan Sampel ……………………………………………………. 20

3.3.1 Populasi …………………………………………………………….. 20

3.3.2 Sampel ……………………………………………………………… 20

3.4 Teknik Pengumpulan Data …………………………………………….. 20

3.5 Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data ……………………….. 21

3.5.1 Teknik Pengolahan Data ………………………………………. 21

3.5.2 Analisa Data ………………………………………………………. 22

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian ………………………………………………………………. 23

4.2 Pembahasan …………………………………………………………………. 25

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan …………………………………………………………………… 28

5.2 Saran ………………………………………………………………………… 28

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Persalinan Preterm di RSUD Pariaman

Tahun 2008 …………………………………………………………………….. 23

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Asfiksia Neonatorum Pada Persalinan

Preterm di RSUD Pariaman Tahun 2008……………………………….. 24

Tabel 4.4 Hubungan Persalinan Preterm dengan Kejadian Asfiksia

Neonatorum di RSUD Pariaman Tahun 2008 ………………………… 24


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Manajemen Bayi Baru Lahir …………………………………………….. 11

Gambar 1.2 Hubungan Persalinan Preterm Dengan Kejadian Asfiksia

Neonotorum di RSUD Pariaman Tahun 2008 ……………………… 17


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Checklist Pengumpulan data

Lampiran 2. Master Tabel

Lampiran 3. Pengolahan Data

Lampiran 4 Ganchart

Lampiran 5 Lembaran Konsultasi Kegiatan Bimbingan Karya Tulis Ilmiah


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010, bahwa Visi dari MPS adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat. (Syaifuddin 2002).

Misi MPS adalah menurunkan kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantauan sistem kesehatan untuk menjamin akses terhadap intervensi yang cost effective berdasarkan bukti ilmiah yang berkualitas, memberdayakan wanita, keluarga dan masyarakat melalui kegiatan yang mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, serta menjamin agar kesehatan maternal dan neonatal dipromosikan dan dilestarikan sebagai prioritas program pembangunan nasional. (Syaifuddin 2002).

Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian neonatal menjadi 16 per 1000 kelahiran hidup. (Syaifuddin 2002).

Menurut World Health Organization (WHO) menunjukkan di Indonesia terdapat Angka Kematian Ibu sekitar 307 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi di Indonesia 35 per 1000 kelahiran hidup. (Azrul Azwar : 2005).

Tingginya Angka Kematian Bayi tersebut disebabkan oleh asfiksia neonatorum (49-60 %), infeksi (24-34 %), permaturus/BBLR (15-20 %), trauma persalinan (2-7 %) dan cacat bawaan (1-3%). (Manuaba, 1998 : 5).

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 1998 : 319). Berbagai kemungkinan yang menyebabkan terjadinya asfiksia neonatorum diantaranya persalinan preterm, lilitan tali pusat, gangguan pusat pernafasan, faktor ibu dan banyak faktor lainnya. Namun faktor yang dominan adalah persalinan preterm. (JPKN-NR, 2007 : 108). Persalinan preterm merupakan persalinan yang terjadi pada kehamilan 37 minggu atau kurang (Wiknjosastro, 2002 : 312) atau bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram (Mochtar, 1998 : 218).

Di Propinsi Sumatera Barat tahun 2008 Angka Kematian Bayi berkisar 28,5 orang per 1000 kelahiran hidup (Dinkes sumbar 2008). Sedangkan di Kota Pariaman terdapat angka kematian bayi pada tahun 2008 adalah 13,48 per 1000 kelahiran hidup. (Profil Kesehatan Kota Pariaman, 2008).

Di RSUD Pariaman pada tahun 2007 angka kejadian persalinan preterm sebanyak 64 dari 1242 persalinan dan terdapat 39 kasus asfiksia. Sedangkan pada tahun 2008 Angka kejadian persalinan preterm 53 dari 690 persalinan dan terdapat 36 kasus asfiksia dari jumlah persalinan preterm tersebut (Medical Record RSUD Pariaman) dan 16 dari 36 kasus asfiksia tersebut mengalami kematian.

Kesulitan utama dalam persalinan preterm adalah perawatan bayi preterm yang semakin muda usia kehamilan semakin besar morbiditas dan mortalitas, karena disamping harapan hidup perlu dipikirkan pula kualitas bayi tersebut. (Syaifuddin, 2002). Persalinan Preterm menimbulkan resiko neonatal seperti gangguan pernapasan dan suhu tubuh yang tidak stabil. (Surasmi, 2003 : 42). Hal tersebut merupakan hal yang berbahaya karena mempunyai dampak potensial meningkatkan kematian bayi.

Melihat dampak negatif persalinan preterm tidak saja terhadap kematian perinatal tetapi juga terhadap morbiditas, potensi generasi akan datang, kelainan mental dan beban ekonomi bagi keluarga dan bangsa. Maka Indonesia harus bertekad untuk menurunkan angka kejadian persalinan preterm, yang bila berhasil akan mempengaruhi angka kematian bayi.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan prsalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian adalah : Apakah terdapat hubungan antara persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Pariaman tahun 2008.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Pariaman tahun 2008.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Diketahui distribusi frekuensi persalinan preterm di RSUD Pariaman tahun 2008.

1.3.2.2 Diketahui distribusi frekuensi asfiksia neonatorum di RSUD Pariaman tahun 2008.

1.3.2.3 Diketahui hubungan persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Pariaman tahun 2008.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi penulis untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai kasus persalinan preterm dan kejadian asfiksia neonatorum serta meningkatkan pengalaman penulis dalam bidang penelitian.

1.4.2 Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan khususnya petugas ruang kebidanan dan perinatologi RSUD Pariaman terhadap persalinan preterm dan kejadian asfiksia neonatorum.

1.4.3 Sebagai studi pendahuluan bagi peneliti selanjutnya.

1.5 Ruang Lingkup

Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Pariaman Tahun 2008. Dengan variabel independen persalinan preterm dan dependen asfiksia neonatorum. Penelitian ini akan dilaksanakan di RSUD Pariaman pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2009. Pengumpulan data dilakukan di Medical Record RSUD Pariaman. Data yang dikumpulkan menggunakan studi dokumentasi sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan restropektif dengan rancangan penelitian casecontrol.


BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Persalinan Preterm

2.1.1.1 Definisi

Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan 37 minggu atau kurang. (Wiknjosastro, 2002 : 312).

Persalinan preterm dapat didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi dibawah umur kehamilan 37 minggu dengan perkiraan berat badan janin kurang dari 2500 gr. (Manuaba, 1998 : 221).

Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20-37 minggu) atau berat badan janin kurang dari 2.500 gram. (Saifuddin, 2001 : 300).

2.1.1.2 Etiologi

Etiologi persalinan preterm sering kali diketahui. Namun beberapa kondisi medik mendorong untuk dilakukan tindakan sehingga terjadi persalinan preterm.

Faktor-faktor tersebut diantaranya :

1) Hipertensi

2) Perdarahan anterpartum seperti pada solusio plasenta, plasenta previa

3) Perkembangan janin terlambat

4) Janin mati

5) Ketuban pecah dini

6) Hidramnion, kehamilan gemili

7) Plasenta yang kurang baik

8) Riwayat pernah melahirkan prematur atau keguguran (Wiknjosastro, 2002 : 312).

Namun selain faktor kondisi medik di atas, ada juga faktor-faktor kondisi umum yang mempengaruhi persalinan preterm, diantaranya:

1) Umur ibu, suku bangsa, sosial ekonomi

2) Anemia

3) Umur hamil terlalu muda kurang dari 20 tahun atau terlalu tua diatas 35 tahun.

4) Perokok berat, dengan lebih dari 10 batang/hari. (Manuaba, 1998 : 222).

2.1.1.3 Pencegahan

Langkah-langkah yang dapat diambil untuk pencegahan persalinan preterm adalah :

1) Perbaiki keadaan sosial ekonomi

2) Cuti hamil

3) Antenatal care

4) Pakailah kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan

5) Mengusahakan makan lebih baik pada masa hamil

6) Menghindarkan kerja berat selama hamil.

(Wiknjosastro, 2002 : 315).

2.1.1.4 Pertolongan persalinan preterm

Pertolongan persalinan preterm dilakukan dengan trauma yang minimal mungkin.

Penyulit yang dihadapi diantaranya :

1) Trauma persalinan menimbulkan perdarahan intracranial

2) Gangguan pernafasan karena aspirasi air ketuban

3) Asfiksia neonatorum

4) Mudah terjadi infeksi neonatus. (Manuaba, 1998 : 222).

2.1.1.5 Tanda dan Gejala Bayi Preterm

1) Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu

2) Berat badan sama dengan atau kurang dari 2.500 gram

3) Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm

4) Kuku panjangnya belum melewati ujung jari

5) Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas

6) Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm

7) Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm

8) Rambut lanugo masih banyak

9) Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang

10) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga seolah-olah tidak teraba tulang

11) Tumit mengkilap, telapak kaki halus

12) Alat kelamin bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang, testis belum turun ke dalam skrotum. Untuk bayi perempuan klitoris menonjol, labia minora belum tertutup oleh labia mayora

13) Tonus otot lemah, sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah

14) Fungsi saraf yang belum atau kurang matang, mengakibatkan refleks isap, menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif dan tangisnya lemah

15) Jaringan kelenjer mamae kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang

16) Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit. (Surasmi, 2003 : 32).

2.1.2 Asfiksia neonatorum

2.1.2.1 Definisi

Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan (Mocthar, 1998 : 427).

Definisi lain, asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba, 1998 : 319).

2.1.2.2 Penilaian Bayi Baru Lahir

Segera setelah lahir, letakkan bayi di atas kain bersih dan kering yang disiapkan pada perut bawah ibu. Segera lakukan penilaian awal dengan menjawab 4 pertanyaan ;

1. Apakah bayi cukup bulan ?

2. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?

3. Apakah bayi menangis atau bernapas ?

4. Apakah tonus otot bayi baik?

Jika bayi cukup bulan dan air ketuban bercampur mokonium dan tidak menangis atau tidak bernapas atau megap-megap dan atau tonus otot tidak baik lakukan langkah resusitasi.

Dalam bagan alur manajemen bayi baru lahir dapat dilihat alur penatalaksanaan BBL. Untuk BBL yang langsung menangis atau bernapas spontan dan teratur dilakukan asuhan BBL normal.

PERSIAPAN

PENILAIAN :

1. Apakah bayi cukup bulan?

2. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium ?

3. Apakah bayi menangis atau bernapas ?

4. Apakah tonus bayi baik ?

Bayi cukup bulan, ketuban jernih, menangis atau bernapas, tonus otot baik

Bayi tidak cukup bulan, dan atau tidak menangis atau tidak bernapas atau megap-megap dan atau tonus otot tidak baik

A

Manjemen bayi baru lahir normal

B

Manjemen asfiksia Bayi Baru Lahir

C

Manjemen Air Ketuban Bercampur Mekonium

Air ketuban bercampur mekonium

BAGAN ALUR;

MANAJEMEN BAYI BARU LAHIR

2.1.2.3 Etiologi

1) Faktor bayi :

(1) Persalinan preterm (sebelum 37 minggu)

(2) Persalinan dengan tindakan (sunsang, bayi kembar, distosia bahu, eksraksi vakum, ekstraksi forcep)

(3) Kelainan bawaan (congenital)

(4) Air ketuban bercampur mekonium

2) Faktor ibu :

(1) Preeklampsi dan eklampsi

(2) Plasenta previa atau solusio plasenta

(3) Partus lama atau macet

(4) infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)

3) Faktor tali pusat

(1) Lilitan tali pusat

(2) Tali pusat pendek

(3) Simpul tali pusat

(4) Prolapsus tali pusat (JPKN-NR, 2007 : 108).

2.1.2.4 Patofisiologi

Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbullah rangsangan terhadap Nervus Vagus sehingga bunyi jantung janin menjadi lambat. Bila kekurangan O2 ini terus berlangsung, maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbullah kini rangsangan dari nervus simpatikus. Denyut jantung janin menjadi cepat akhirnya irregular dan menghilang.

Kekurangan O2 juga merangsang usus, sehingga mekoneum keluar sebagai tanda janin dalam asfiksia.

- Jika DJJ normal dan ada mokeneum : janin mulai asfiksia

- Jika DJJ lebih 160 kali per menit dan ada mekoneum : janin sedang asfiksia

- Jika DJJ kurang dari 100 klai per menit dan ada mekoneum : janin dalam keadaan gawat. (Mochtar, 1998 : 428).

Pada bayi yang mengalami kekurangan oksigen akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat. Apabila asfiksia berlanjut gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga mulai menurun, sedangkan tonus neuromuscular berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apnu primer. Biasanya pemberian rangsangan dan oksigen selama periode ini dapat merangsang pernafasan spontan. Apabila asfiksia berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan megap-megap yang dalam, denyut jantung terus menurun, tekanan darah bayi juga menurun dan bayi terlihat lemas (flaccid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apnu skunder. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi kecuali apabila resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian oksigen dimulai dengan segera. (Saifudin, 2001 : 347).

2.1.2.5 Gambaran Klinis

Ada dua macam yaitu :

1). Asfiksia livida (biru)

2). Asfiksia pallida (putih)

Perbedaan

Asfiksia Pallida

Asfiksia Livida

Warna kulit

Pucat

Kebiru-biuran

Tonus otot

Sudah kurang

Masih baik

Reaksi rangsangan

Negatif

Positif

Bunyi jantung

Tidak teratur

Teratur

Prognosis

Jelek

Lebih baik

(Mochtar, 1998 : 428).

2.1.2.6 Diagnosis

Untuk dapat menegakkan diagnosis gawat janin dapat ditetapkan melakukan pemeriksaan sebagai berikut :

1). In utero

(1) Denyut jantung janing (DJJ) dengan frekuensi lebih dari 160 atau kurang dari 100 kali per menit

(2) Mekoneum dalam air ketuban (pada letak kepala)

(3) Analisa air ketuban/amnioskopi

(4) Kardiotografi

(5) Ultrasonografi

2). Setelah bayi lahir

(1) Bayi tampak pucat dan kebiru-biruan serta tidak bernafas

(2) Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik seperti kejang, nistagmus dan menangis kurang baik atau tidak menangis. (Mocthar, 1998 : 428).

Dalam gawat janin sangat penting untuk dapat menyelamatkan karena dengan demikian dapat membatasi morbiditas dan mortalitas perinantal. Jika terdapat asfiksia, tingkatannya perlu dikenal untuk dapat melakukan resusitasi perinantal. Jika terdapat asfiksia, tingkatannya perlu dikenal untuk dapat melakukan resusitasi yang sempurna.

Cara penilaian bayi baru lahir adalah setelah lahir, letakkan bayi di atas kain bersih dan kering yang disiapkan pada perut bawah ibu. Segera lakukan penilaian awal dengan menjawab 4 pertanyaan ;

1) Apakah bayi cukup bulan ?

2) Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?

3) Apakah bayi menangis atau bernapas ?

4) Apakah tonus otot bayi baik?

Jika bayi cukup bulan dan air ketuban bercampur mokonium dan tidak menangis atau tidak bernapas atau megap-megap dan atau tonus otot tidak baik lakukan langkah resusitasi.

Dalam bagan alur manajemen bayi baru lahir dapat dilihat alur penatalaksanaan BBL. Untuk BBL yang langsung menangis atau bernapas spontan dan teratur dilakukan asuhan BBL normal.

2.1.2.7 Penanganan

1). Jangan dibiarkan bayi kedinginan (balut dengan kain), bersihkan mulut dan jalan napas

2). Lakukan resusitasi

Tindakan resusitasi bayi lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi

(1). A (Airway) = memastikan saluran napas terbuka

a) Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi

b) Menghisap mulut, hidung dan kadang-kadang trachea

c) Bila perlu, masukkan pipa endotrachea (pipa ET) untuk memastikan saluran pernapasan terbuka

(2). B (Breath) = Memulai pernapasan

a) Memakai rangsangan taktil untuk memulai pernapasan

b) Memakai VTP, seperti sungkup dan bola, pipa ET, mulut ke mulut

(3). C (Circulation) = Mempertahankan sirkulasi darah

a) Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada dan pengobatan. (Saifuddin, 2001 : 350).

b) Gejala perdarahan otak biasanya timbul pada beberapa hari postpartum, jadi kepala dapat direndahkan, supaya lendir yang membuat pernapasan dapat keluar

c) Kalau ada dugaan perdarahan otak berikan injeksi Vit. K1-2 mg

d) Berikan transfuse darah melalui tali pusat atau pemberian glukosa. (Mocthar, 1998 : 429).

2.1.2.8 Profilaksis (pencegahan)

Yang harus diperhatikan untuk mencegah asfiksia neonatorum adalah :

1). Hindari forseps tinggi, versi dan ekstraksi pada panggul sempit, serta pemberian pituitarin dalam dosis tinggi

2). Bila ibu anemis, perbaikan keadaan ini dan bila ada perdarahan berikan O2 dan darah segar

3). Jangan berikan obat bius pada waktu yang tidak tepat, dan jangan menunggu terlalu lama pada kala II. (Mocthar, 1998 : 429).

2.2 Kerangka Konsep

Berdasarkan uraian dalam tinjauan teoritis di atas, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya asfiksia neonatorum. Salah satu penyebabnya adalah persalinan preterm (JPKN – NK, 2007 : 108). Maka dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen yang akan di teliti adalah persalinan preterm dan yang menjadi variabel dependen adalah asfiksia neonatorum.

Gambar 1.1

Hubungan Persalinan Preterm dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Pariaman Tahun 2008.

Variabel Independen

Variabel Dependen

Persalinan preterm

Asfiksia neonatorum

<!–[if supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–>

2.3 Hipotesa Penelitian

Ha = Terdapat hubungan antara persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum

Ho = Tidak ada hubungan antara persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum.

2.4 Definisi Operasional

No

Variabel

Definisi Operasional

Cara Ukur

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala Ukur

1.

Persalinan preterm

Persalinan yang terjadi pada kehamilan < dari 37 minggu (antara 20-37 mg) atau BB janin < dari 2500 gr

Study dokumentasi (medical record)

Checklist

1. Preterm

2. Tidak preterm

Nominal

2.

Asfiksia neonatorum

Keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan tertatur segera setelah lahir dengan nilai Apgar ≤ 6

Study dokumentasi (medical record)

Checklist

1. Asfiksia

2. Tidak Asfiksia

Nominal


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat survey analitik dengan rancangan penelitian casecontrol yaitu penelitian survey analitik yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospective. (Notoadmodjo, 2002 : 150) untuk menilai hubungan persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

3.2.1 Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Pariaman. Adapun pemilihan tempat ini berdasarkan atas pertimbangan berikut :

1). RSUD Pariaman sebagai rumah sakit pendidikan

2). Belum pernah dilakukan penelitian sebelumnya mengenai hubungan persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum.

3.2.2 Waktu

Penelitian ini direncanakan dari tanggal 25 Mei sampai dengan 28 Agustus 2009.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi kasus penelitian ini adalah seluruh bayi yang lahir dengan persalinan preterm yang asfiksia dan bukan asfiksia (53 kasus) sedangkan populasi kontrol adalah seluruh bayi dengan persalinan aterm yang asfiksia dan bukan asfiksia di RSUD Pariaman tahun 2008 (690 kasus).

3.3.2 Sampel

Sampel kasus diambil secara total sampling yaitu keseluruhan populasi (53 kasus), sedangkan sampel kontrol diambil secara sistematik sampling. Pada sistematik sampling, pengambilan sampel dilakukan dengan cara membagi jumlah anggota populasi (N) dengan perkiraan jumlah sampel yang diinginkan (n) sehingga diperoleh interval sampel (K) dan yang terkena sampel adalah setiap kelipatan dari K tersebut, seperti pada rumus :

(Chandra, 1995 : 41).

Maka interval sampel kontrol menjadi

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berasal dari data sekunder melalui study dokumentasi catatan rekam medik ruang kebidanan dan perinatologi pada bayi yang dilahirkan dengan asfiksia dan tidak asfiksia yang disebabkan oleh persalinan preterm di RSUD Pariaman dengan menggunakan checklist.

Dalam penelitian ini variabel independen dan variabel dependen diidentifikasi melalui catatan rekam medik. Dari rekam medik tersebut dicatat kejadian asfiksia neonatorum yang disebabkan oleh persalinan preterm.

3.5 Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data

3.5.1 Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan setelah pengumpulan data, dengan maksud agar data yang dikumpulkan memiliki sifat yang jelas. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data, yaitu :

1) Editing, yaitu pemeriksaan data yang didapat dan diperiksa apakah terdapat kekeliruan atau kemungkinan tidak lengkap atau tidak sesuai.

2) Koding, yaitu pemberian kode atau tanda pada tiap – tiap data dengan angka.

3) Tabulating, yaitu menjumlahkan dan menyusun data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi .

4) Entry data, yaitu memasukkan data ke dalam master tabel disesuaikan dengan teknik analisis yang digunakan.

3.5.2 Analisa Data

Analisa data yang dilakukan adalah :

1). Analisa Univariat

Merupakan analisa yang dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi tiap variabel yaitu persalinan preterm dan kejadian asfiksia neonatorum.

2). Analisa Bivariat

Merupakan analisa yang dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel yaitu persalinan preterm dan kejadian asfiksia neonatorum, yang dilakukan dengan uji statistic Chi-Square () dengan kemaknaan signifikan 0,05 (95%), tabel = 3,841 dan df = 1. Analisa ini dilakukan secara manual dengan rumus :

Keterangan

Uji statistik ini dilakukan dengan menggunakan tabel contigensy 2×2 untuk melihat hubungan dua variable dengan membandingkan hitung dengan tabel.

Jika hitung ≥ table : Ha diterima

Jika hitung < table : Ha ditolak

(Chandra, 1995 : 92).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Penelitian yang bersifat survei analitik dengan rancangan casecontrol yang menggunakan pendekatan retrospektif ini dilakukan mulai dari bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2009 di RSUD Pariaman untuk melihat hubungan persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum. Data yang dikumpukan berasal dari data sekunder (rekam medis rumah sakit) dengan menggunakan checklist. Sampel kasus dan kontrol masing-masing berjumlah 53 sampel. Maka di dapatkan data sebagai berikut:

4.1.1 Analisa Univariat

Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Persalinan Preterm di RSUD Pariaman

Tahun 2008

No

Persalinan Preterm

F

%

1.

Ya

53

7,7

2.

Tidak

637

92,3

Jumlah

690

100

Pada tabel dapat dilihat bahwa dari 690 persalinan di RSUD Pariaman 53 (7,7%) merupakan persalinan preterm.

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Asfiksia Neonatorum pada Persalinan Preterm

di RSUD Pariaman Tahun 2008

No

Asfiksia Neonatorum

F

%

1.

Ya

36

67,9

2.

Tidak

17

32,1

Jumlah

53

100

Pada tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa dari 53 kasus persalinan preterm terdapat 36 kasus (67,9%) yang mengalami asfiksia neonatorum.

4.1.2 Analisa Bivariat

Tabel 4.3

Hubungan Persalinan Preterm dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Pariaman Tahun 2008

No

Jenis Persalinan

Asfiksia Neonatorum

Tidak Asfiksia Neonatorum

Jumlah

F

%

F

%

F

%

1.

Preterm

36

67,9

17

32,1

53

100

2.

Aterm

10

18,8

43

81,1

53

100

46

43,4

60

56,6

106

100

Pada tabel 4.3 dapat dilihat bahwa 36 dari 53 kasus (67,9%) persalinan preterm mengalami asfiksia neonatorum. Sedangkan pada kasus kontrol, dari 53 kasus terdapat 10 kasus (18,8%) yang mengalami asfiksia neonatorum. Setelah dilakukan uji statistik dengan uji chi-square didapatkan X2 hitung (25,9) > X2 tabel (3,841), artinya terdapat hubungan yang signifikan antara persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Analisa Univariat

4.2.1.1 Persalinan Preterm

Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat dilihat bahwa kejadian persalinan preterm di RSUD Pariaman tahun 2008 cukup tinggi yaitu 53 kasus dari 690 persalinan (7,7%). Hal ini diasumsikan karena RSUD Pariaman merupakan rumah sakit rujukan dari beberapa rumah sakit daerah lainnya. Pada BAB II sudah dikemukakan bahwa banyak kondisi medik yang mendorong untuk terjadinya persalinan preterm. Namun selain faktor kondisi medik, juga terdapat faktor kondisi umum, seperti: umur ibu, suku bangsa, sosial ekonomi, status perkawinan, pekerjaan ibu dan kebiasaan buruk seperi perokok berat.

4.2.1.2 Asfiksia Neonatorum

Rendahnya nilai APGAR pada bayi baru lahir di RSUD Pariaman tahun 2008 diasumsikan karena keterlambatan dalam pengambilan keputusan dan penanganan di rumah sakit rujukan. Selain itu, saat ini rumah sakit masih menggunakan nilai APGAR untuk menilai tingkat asfiksia dan menentukan kapan resusitasi dimulai. Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan oleh 3 tanda penting, yaitu pernapasan, denyut jantung dan warna kulit (Saifuddin, 2001 : 349). Keterlambatan intervensi sangat membahayakan pada bayi preterm dan pada bayi yang mengalami depresi berat.

4.2.2 Analisa Bivariat

Hasil analisis hubungan persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum diperoleh dari 53 kasus persalinan preterm sebagian besar (67,9%) mengalami asfiksia neonatorum. Sedangkan pada kasus kontrol (persalinan aterm) yang mengalami asfiksia neonatorum sebanyak 18,8% (10 kasus). Setelah dilakukan uji statistik dengan uji chi-square didapatkan X2 hitung (25,9) > X2 tabel (3,841), artinya terdapat hubungan yang signifikan antara persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum.

Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa salah satu penyebab asfiksia neonatorum adalah persalinan preterm (JPKNR-NR 2007 : 108). Timbulnya asfiksia neonatorum pada bayi preterm dikarenakan belum maksimalnya tingkat kematangan fungsi sistem organ tubuh sehingga sulit untuk beradaptasi dengan kehidupan ekstra uterine. Kesukaran bernapas pada bayi preterm ini dapat disebabkan karena belum sempurnanya pembentukan membran hialin surfaktan paru yang merupakan suatu zat yang dapat menurunkan tegangan dinding alveoli paru. Pertumbuhan surfaktan paru mencapai maksimum pada minggu ke-35 kehamilan (Surasmi, 2003 : 43).

Hal serupa juga dikemukakan oleh Wiknjosastro bahwa asfiksia neonatorum disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi lahir.

Persalinan preterm juga mengakibatkan bayi mengalami suhu tubuh yang tidak stabil karena bayi preterm tidak dapat menghasilkan panas yang cukup dikarenakan kekurangan lemak tubuh. Suatu kenyataan lain ialah bagian otak yang mengendalikan suhu tubuh bayi preterm belum berfungsi secara wajar.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Setria Frasiska tentang hubungan persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh Tahun 2005, bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum.

Persalinan preterm membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat terhadap pertolongan persalinan dan penanganan bayi baru lahir sangat diharapkan, sehingga dapat mencapai wellborn baby dan wellhealth mother dengan demikian menunjang terhadap penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:

5.1.1 Distribusi frekuensi persalinan preterm di RSUD Pariaman tahun 2008 sebanyak 53 kasus.

5.1.2 Distribusi frekuensi asfiksia neonatorum di RSUD Pariaman tahun 2008 sebanyak 36 kasus (67,9 %).

5.1.3 Terdapat hubungan yang signifikan antara persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum yaitu X2 hitung (25,9)> X2tabel (3,841)

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka di sarankan:

5.2.1 Bagi petugas kesehatan di RSUD Pariaman

Diharapkan melakukan upaya penyuluhan kepada ibu hamil ketika pelayanan antenatal tentang faktor-faktor resiko dan upaya persalinan preterm.

5.2.3 Bagi peneliti selanjutnya

Diharapkan agar dapat meneliti tentang faktor-faktor resiko lainnya seperti preeklampsi, persalinan postterm, perdarahan antepartum, partus lama dan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, suharsini, 2002 Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta

Chandra, Budiman, DR, 1995 Pengantar Statistik Kesehatan, Jakarta: EGC

Dinas kesehatan kota pariaman, 2008 Profil Kesehatan Kota Pariaman

Manuaba, Ida Bagus Gde, Prof. dr, SpOG, 1998 Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Rerencana Untuk PendIdikan Bidan, Jakarta : EGC

Medical Record RSUD Pariaman Tahun 2008

Mochtar, rustam, prof, dr, MPH, 1998 Sinopsis Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi, Jakarta: EGC

Notoatmodjo, soekidjo, Dr, 2002 Metodelogi Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta

Saifuddin, abdul ban, prof. dr, SpOG, MPH, 2001 Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, Jakarta : YBP-SP

Surasmi, asnining, 2003 Perawatan Bayi Resiko Tinggi, Jakarta : EGC

Wiknjosastro, hanifa, prof. dr, SpOG, MPH, 2001 Ilmu Kebidanan, Jakarta : YBP-SP

Wiknjosastro, gulardi, prof. dr, SpOG, 2008 Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal, Jakarta : YBP-SP

http ://www.padangekpres.com

Lampiran I

CHECKLIST PENGUMPULAN DATA PENELITIAN KELOMPOK

KASUS PERSALINAN PRETERM DAN KELOMPOK KONTROL

PERSALINAN ATERM DI RSUD PARIAMAN TAHUN 2008

No

KELOMPOK KASUS

KELOMPOK KONTROL

No. MR

Asfiksia

Tidak Asfiksia

No. MR

Asfiksia

Tidak Asfiksia

1

048614

047302

2

048784

047481

3

021861

046495

4

048197

047919

5

049266

048336

6

049784

048514

7

049931

047608

8

050158

046826

9

050284

049002

10

043490

049158

11

020960

049304

12

050475

049453

13

042916

079726

14

050636

029192

15

051271

049922

16

051582

050340

17

051776

049326

18

051621

050670

19

051966

049931

20

052234

051157

21

053371

051338

22

053956

050565

23

054364

051782

24

051141

049596

25

054776

051957

26

054846

041840

27

055254

052328

28

055794

052543

29

055697

052773

30

056353

026312

31

060176

053152

32

060680

049583

33

060844

053501

34

061007

053703

35

061051

054436

36

058142

054036

37

060844

045583

38

061493

054422

39

061785

051914

40

061931

054922

41

062752

055092

42

063824

055263

43

060544

055632

44

064775

056224

45

066165

055995

46

066172

055995

47

055784

014715

48

052163

044690

49

055691

055115

50

050110

054921

51

059361

051149

52

050586

051422

53

049596

050170

Pariaman, Oktober 2009

Peneliti

RINA PUSPITA AMRI

NIM. 060201025


Lampiran 2

MASTER TABEL

No

Kelompok kasus

Kelompok kontrol

No MR

Jenis kasus

No MR

Jenis kasus

1

048614

1

047302

2

2

048784

1

047481

2

3

021861

1

046495

2

4

048197

1

047919

2

5

049266

1

048336

2

6

049784

1

048514

1

7

049931

1

047608

2

8

050158

1

046826

1

9

050284

2

049002

2

10

043490

1

049158

2

11

020960

2

049304

2

12

050475

1

049453

2

13

042916

1

079726

2

14

050636

1

029192

2

15

051271

2

049922

2

16

051582

2

050340

1

17

051776

1

049326

1

18

051621

2

050670

1

19

051966

1

049931

2

20

052234

2

051157

2

21

053371

1

051338

1

22

053956

2

050565

2

23

054364

1

051782

2

24

051141

2

049596

2

25

054776

1

051957

2

26

054846

2

041840

2

27

055254

1

052328

1

28

055794

1

052543

2

29

055697

1

052773

2

30

056353

1

026312

2

31

060176

1

053152

1

32

060680

1

049583

2

33

060844

1

053501

2

34

061007

1

053703

2

35

061051

1

054436

2

36

058142

1

054036

2

37

060844

1

045583

1

38

061493

1

054422

2

39

061785

1

051914

2

40

061931

2

054922

2

41

062752

1

055092

2

42

063824

1

055263

1

43

060544

2

055632

2

44

064775

1

056224

2

45

066165

2

055995

2

46

066172

1

055995

2

47

055784

1

014715

2

48

052163

1

044690

2

49

055691

2

055115

2

50

050110

2

054921

2

51

059361

2

051149

2

52

050586

2

051422

2

53

049596

2

050170

2

Keterangan :

1. Asfiksia

2. Tidak Asfiksia

Pariaman, Oktober 2009

Peneliti

RINA PUSPITA AMRI

NIM. 060201025

Lampiran 3

PENGOLAHAN DATA

HUBUNGAN PERSALINAN PRETERM DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM DI RSUD PARIAMAN TAHUN 2008

No

Jenis Persalinan

Asfiksia Neonatorum

Jumlah

Ya

Tidak

1.

Preterm

36 (67,9%)

(A)

17 (32,1%)

(B)

53 (100%)

2.

Aterm

10 (18,8%)

(C)

43 (81,1%)

(D)

53 (100%)

Jumlah

46 (43,4%)

60 (56,6%)

106 (100%)

Uji Chi-Square :

Dikethaui : P = 0,05

Df = 1

X2 tabel = 3,841

hitung > table (25,9>3,841)

Jadi Ha diterima (gagal tolak) dimana terdapat hubungan yang signifikan antara persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.